31/08/2020
Syaikh Armiya merupakan putra bungsu dari Kiyai Kurdi. Kakek beliau dikenal dengan nama Mbah Suraprana, tokoh yang dikenal kewaskitaannya. Sebelum beliau lahir, kakeknya sudah pernah mengatakan kalau putra bungsu dari Kiyai Kurdi ini kelak akan menjadi seorang tokoh besar dalam hal keilmuan dan kewalian.
Kiyai Armiya lahir di Cikura - Tegal, dusun kecil yang berada di tengah hutan pegunungan lereng gunung Slamet sekitar tahun 1830-an. Tidak lama setelah kelahirannya, bapaknya, Kiyai Kurdi meninggal dunia. Jadilah Kiyai Armiya anak bungsu yang yatim.
Ada cerita bahwa semasa kecil Kiyai Armiya tinggal bersama paman dan bibinya. Kegiatan sehari-harinya mencari rumput dan kayu bakar di hutan untuk kebutuhan sehari-hari. Hal itu terus berlanjut sampai beliau dewasa.
Suatu hari di kala sedang mencari rumput dan kayu bakar di tengah hutan, beliau mendengar suara lantunan ayat Al Qur'an. Setelah didekati ternyata suara itu berasal dari seorang laki-laki yang sedang duduk di atas batu. Dengan tenang beliau lama terdiam menikmati keindahan lantunan ayat-ayat suci itu.
Dari pengalaman itu muncullah keinginan dalam hati untuk menuntut ilmu agama. Setelah membicarakan dengan paman dan bibinya akhirnya diputuskanlah kalau beliau akan berangkat mondok dan mencari ilmu.
Menurut salah satu riwayat, tempat pertama yang beliau singgahi adalah Kesuben - Lebaksiu, Tegal. Setelah itu Sumpyuh - Banyumas dan berlanjut ke Tegal Gubug - Cirebon dan Lemah Duwur - Tegal. Di dua tempat terakhir beliau menimba ilmu kepada sosok ulama yang keduanya bernama Kiyai Anwar.
Dalam riwayat lain dikatakan bahwa beliau menimba ilmu dari banyak guru yang tak terhitung jumlahnya, namun kebanyakan adalah wali mastur (ditutup/tidak nampak kewaliannya). Dalam belajar, setelah dirasa cukup oleh gurunya maka beliau selalu diantarkan menuju ke guru yang lain dan terus berlanjut demikian.
Kiyai Armiya kembali ke kampung halaman setelah pencarian ilmu ketika usianya mencapai 60-an tahun.