Auto 2000

Auto 2000 TOYOTAKU untuk Anda yang ingin mendapatkan informasi ter-update seputar TOYOTA mulai dari Type kenda

06/08/2020

Corolla Cross

Toyotakuwww.toyotaku.co.idDealer Digitalnya ToyotaUrusan Trade in ini Ahlinya
02/08/2020

Toyotaku
www.toyotaku.co.id

Dealer Digitalnya Toyota
Urusan Trade in ini Ahlinya





Selamat kepada Bapak Atep MahmudinMendapatkan hadiah 1 unit Sepeda Motor pembelian bulan Januari - Maret 2020melalui Toy...
17/04/2020

Selamat kepada
Bapak Atep Mahmudin
Mendapatkan hadiah 1 unit Sepeda Motor pembelian bulan Januari - Maret 2020
melalui Toyotaku
Auto2000 Asia Afrika Bandung.

DigiMa (Digital Imah)
www.toyotaku.co.id

Toyotaku
Dealer Digitalnya Toyota
Urusan Toyota ini Ahlinya


Asia Afrika



Trade in aja MobilMu di ToyotaKuDigiMa (Digital Imah)www.toyotaku.co.idToyotakuDealer Digitalnya ToyotaUrusan Toyota ini...
13/04/2020

Trade in aja MobilMu di ToyotaKu
DigiMa (Digital Imah)
www.toyotaku.co.id

Toyotaku
Dealer Digitalnya Toyota
Urusan Toyota ini Ahlinya





DigiMa (Digital Imah)www.toyotaku.co.idToyotaKuDealer Digitalnya ToyotaUrusan Toyota ini Ahlinya
01/04/2020

DigiMa (Digital Imah)
www.toyotaku.co.id

ToyotaKu
Dealer Digitalnya Toyota
Urusan Toyota ini Ahlinya





DigiMa (Digital Imah)www.toyotaku.co.idToyotakuDealer Digitalnya ToyotaUrusan Toyota ini Ahlinya
31/03/2020

DigiMa (Digital Imah)
www.toyotaku.co.id

Toyotaku
Dealer Digitalnya Toyota
Urusan Toyota ini Ahlinya





30/03/2020

“STAY @ HOME” ECONOMY

Oleh : Yuswohady

Dalam beberapa minggu ke depan ekonomi/bisnis akan mengalami kelumpuhan oleh wabah Covid-19. Ini adalah skenario terburuk kalau korban terinfeksi/meninggal terus meroket secara eksponensial seperti terlihat trennya beberapa hari terakhir.

Dampaknya tak hanya sekedar “disruptif” tapi juga “interuptif” dimana pergerakan ekonomi bisa sampai terhenti, dan setelah wabah lewat para pelaku bisnis harus memulai dari nol.

Bagan di bawah ini secara simpel menunjukkan bagaimana Covid-19 tak hanya menyerang kesehatan tubuh kita tapi juga akan melumpuhkan sistem ekonomi kita.

Kalau garis-garis yang menghubungkan bulatan-bulatan dalam bagan itu saya gambarkan sebagai “pembuluh darah” perputaran uang. Maka Covid-19 bakal menyumbat bahkan menutup pembuluh-pembuluh darah tersebut, hingga ke suatu titik nadir dimana aliran darah terhenti.

Ketika karyawan dirumahkan, socialdistancing/lockdown diberlakukan, dan kemudian pelaku ekonomi (rumah tangga, perusahaan, lembaga keuangan) wait–and–see dan mengalami kesulitan cashflow maka resesi tak terelakkan lagi.

Toko-toko tutup, perjalanan dilarang, perusahaan bangkrut, pengangguran dimana-mana, non–performing loan (NPL) menggunung, bank krisis, investasi mandek, cashflow sulit, begitu seterusnya membentuk vicious circle yang ujungnya membawa ekonomi terpuruk ke dalam resesi. Seberapa dalam resesi, akan tergantung pada seberapa cepat wabah berlalu.

Berbeda dengan krisis-krisis ekonomi sebelumnya, proses keterpurukan menuju resesi tersebut tidak berjalan secara bergilir (domino effect) namun secara simultan (Baldwin, 2020). Itu sebabnya saya mengatakan Covid-19 menyebabkan ekonomi seperti “di-Ctrl-Alt-Del“.

Penyelamat: “Genset di Tengah Blackout”

Namun di tengah lumpuhnya semua sistem ekonomi, masih ada denyut pergerakan ekonomi di unit yang paling kecil yaitu di rumah yang saya sebut: “stay @ home” economy.

Di tengah kondisi darurat krisis kesehatan (health crisis) yang bakal disusul dengan krisis ekonomi (economic crisis), “stay @ home” economy memegang peran paling krusial bagi perekonomian:

“Stay @ home” economy akan menjadi penopang kemampuan survival kita dalam menghadapi kemungkinan terburuk krisis ekonomi akibat Covid-19.

“Stay @ home” economy akan menjadi faktor kunci ketahanan (resilience) kita dalam menghadapi kemandekan ekonomi.

Dan “stay @ home” economy p**a yang akan menjadi titik mula kita dalam melakukan recovery dan kemudian menemukan mementum pertumbuhan kembali.

Apa itu “stay @ home” economy?

Gampangnya adalah ekonomi yang digerakkan oleh pelaku ekonomi yang tinggal di rumah. Inilah ekonomi yang sebagian sudah kita jalani sekarang dan dalam beberapa minggu ke depan kita akan dipaksa menjalaninya secara full begitu wabah terus berkepanjangan.

Sekali lagi dalam kondisi terburuk, saat kita sudah tidak boleh keluar rumah lagi karena social distancing atau bahkan lockdown, maka aktivitas ekonomi akan lumpuh. Ketika toko-toko tutup, mal-mal tutup, warung/resto tutup, kantor-kantor tutup, hotel-hotel tutup, bioskop/tempat hiburan tutup, bahkan pabrik-pabrik tutup, maka satu-satunya aktivitas ekonomi yang masih berjalan adalah di dalam rumah.

Thanks digital, dengan kemajuan teknologi digital, maka kegiatan berbelanja, bekerja, belajar, atau menikmati hiburan masih bisa dilakukan di rumah. Dengan Tokopedia kita masih bisa belanja online. Dengan GoFood kita masih bisa memesan makanan. Dengan Zoom atau Google Hangouts kita masih bisa remote working. Dengan Ruangguru anak-anak masih bisa belajar online. Dengan Halodoc kita masih bisa konsultasi dokter. Dengan Netflix kita masih bisa menikmati film tanpa harus ke gedung bioskop. Dengan Toyotaku Aplikasi berbasis digital dengan semboyan "dealer digitalnya Toyota" kita bisa memesan atau pembelian Kendaraan Toyota dengan gampang tampa harus ke showroom serta yang berhubungan dengan produk toyota

Itu sebabnya saya menyebut, digital adalah pilar dari “stay @ home” economy. Digital adalah “jantung” yang memungkinkan geliat ekonomi di rumah bisa tetap berjalan.

Dengan adanya “stay @ home” economy yang ditopang oleh perangkat digital, maka nadi perekonomian masih bisa berdenyut. Kegiatan ekonomi seperti online shopping, food delivery, remote working (“work from home“ WFH), online schooling, telemedicine, hingga home entertainment masih bisa bergerak walaupun tentu tidak bisa mengompensasi kelumpuhan ekonomi secara total.

Di sini “stay @ home” economy berperan krusial sebagai “genset” darurat di saat perekonomian secara keseluruhan sedang mengalami “blackout“.

Namanya penyelamatan sementara, maka tentu saja “stay @ home” economy tak akan mampu menopang perekonomian dalam waktu panjang. Ia mungkin hanya bisa menyangga 1, 2, atau 3 kuartal ke depan. Kita berdoa semoga wabah Covid-19 tak berkepanjangan, sehingga “stay @ home” economy masih bisa menyelamatkan perekonomian kita.

Pasca Krisis: Kenormalan Baru

Lalu bagaimana prospek “stay @ home” economy ini ke depan? Jelas selama krisis Covid-19 akan menggeliat secara eksponensial. Tapi apakah setelah krisis berlalu, “stay @ home” economy tetap berlanjut tumbuh secepat sekarang?

Wabah Covid-19 secara mendalam akan membentuk stay @ home lifestyle yang bakal menjadi kenormalan baru (newnormal) setelah krisis berlalu. Gaya hidup baru inilah yang menjadi landasan terbentuknya “stay @ home” economy.

Ingat, Covid-19 akan menjadi trauma mendalam bagi konsumen dan ancaman wabah semacam akan terus dan selalu membayang-bayangi mereka bahkan setelah krisis berakhir.

Jadi Covid-19 akan menciptakan perubahan perilaku konsumen yang bersifat permanenyang pada giliran membuka jalan bagi terbentuknya “stay @ home” economy sebagai sebuah kenormalan baru.

Di dalam kenormalan baru tersebut beberapa tren berikut akan terjadi:

Secara umum percepatan adopsi digital (digital transformation) baik oleh konsumen maupun produsen akan terjadi. Covid-19 akan menjadi “catalyst” bagi adopsi digital. Oleh karena itu tak berlebihan kalau saya sebut, berakhirnya wabah Covid adalah: “renaissance of digital adoption” di Indonesia. Di tengah ancaman wabah di masa depan yang terus mengintai, ibu-ibu rumah tangga makin cepat mengadopsi onlineshopping; karyawan “dipaksa” mengadopsi WFH dengan memanfaatkan digital platform; guru dan murid kian nyaman melaksanakan online learning, begitupun generasi mager (“malas gerak”) dan generasi “rebahan” makin subur dengan adanya layanan seperti Netflix, GoFood, atau online gaming yang bakal berkembang pesat.

Revolusi dalam online shopping terjadi dimana konsumen berbelanja online tak hanya untuk produk-produk fesyen, travel, elektronik, atau entertainmentseperti sekarang ini, tapi makin dalam ke pembelanjaan grocery dan kebutuhan-kebutuhan dasar sehari-hari. Minimarket seperti Indomaret/Alfamaret akan menyesuaikan diri dengan mengembangkan omni–channel (O2O: offline to online).

Dampaknya bisa diduga, peritel-peritel fisik/tradisional akan kian berat. Covid-19 juga mendorong penerapan Tech 4.0 seperti virtual dan augmented reality(VR/AR) khususnya di sektor ritel. Untuk mengurangi risiko ancaman wabah virus di kemudian hari teknologi VR/AR memberikan solusi menciptakan pengalaman belanja seperti di toko fisik walaupun si konsumen berada di rumah. Di sektor ritel VR/AR bakal menjadi kenormalan baru. Dengan makin matangnya “stay @ home” lifestyle, maka resto-resto akan menyesuaikan diri dengan mengubah model bisnisnya ke arah online deliveryservices. format seperti “ghost kitchen” atau “dark kitchen” seperti Pizza Hut Delivery akan marak. Mal-mal pun akan semakin tidak populer. Layanan aplikasi remote working seperti Zoom, Google Hangouts, Slack, dan WeChat Work, akan semakin populer memanfaatkan momentum shifting dari traditional working ke WFH. Gig economyakan semakin booming untk beragam pekerjaan seperti: programer, contentcreator, sales, hingga analis data.

Dengan makin banyaknya perusahaan dan karyawan yang menerapkan WFH, maka batas-batas antara “living–woking–playing“ (berkeluarga-bekerja-bermain) menjadi kian kabur. Berita baiknya: life-work balance membaik, kepuasan karyawan meningkat, dan akhirnya produktivitas terdongkrak. WFH akan menjadi mainstream. Karena keharusan physicaldistancing, konsumen “dipaksa” untuk mencoba dan bereksperimen menggunakan layanan telemedecineseperti Halodoc dan Alodokter. Setelah nyaman dan terbiasa, maka perubahan perilakunya akan permannen dan telemedicine akan menjadi cara baru berobat dan membeli obat. Ini membuka jalan bagi Halodoc menjadi the next unicorn.

Dengan uang fisik (kertas maupun logam) bisa menjadi sumber penularan wabah yang massif, maka konsumen kian merasakan urgensi untuk bermigrasi massal menggunakan cashless payment. Ini diikuti bank sentral di seluruh dunia yang mulai mendorong penerapan cashless payment karena pengalaman traumatis Covid-19. Universitas dan kursus-kursus akan berlomba-lomba memperkenalkan onlinelearning. Maka tak terhindarkan lagi MOOCs (massive open online course) yang selama ini terkendala akan menemukan critical mass-nya. Sementara platform belajar online seperti Ruangguru akan menjamur. Berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan tinggal di rumah karena social distancing konsumen mulai terbiasa dengan layanan home entertainmentseperti Netflix, Spotify, atau online gaming. Pasca krisis dampaknya bisa permanen dimana mereka mulai kecanduan. Model bisnis subscription untuk layananstreaming bakal booming. Lama ngendon di rumah juga mendorong maraknya produk dan layanan homefurnishing seperti yang diberikan IKEA, Informa, atau Fabelio. Semboyan mereka adalah: “Rumahku adalah Istanaku”. Tarikan ke arah tren ini kuat sekali karena plafrom media sosial seperti Instagram dan Facebook bisa menjadi “medium pamer” mereka ke netizen.

Kalau ditanya bisnis apa yang bakal marak selama krisis Covid-19 dan setelah krisis usai?

Maka jawabnya sudah pasti adalah bisnis-bisnis yang menopang “stay @ home” economy. Tak heran jika beberapa minggu terakhir saham Netflix atau Zoom meroket beberapa minggu terakhir dan bakal tetap robust ke depan.

Kalau benar resesi ekonomi hingga ke titik nadir dan kita harus menyongsong pasca krisis Covid-19 dengan memulai dari nol, maka melalui uraian di atas Anda para marketers/entrepreneurs sudah tahu harus masuk ke bisnis-bisnis apa saja.

Selalu optimis. Ingat Wei-Ji: di setiap krisis selalu ada peluang.

Welcome “stay @ home” economy.

Naskah di revisi dan diedit
Mardius Linggau

Address

Bandung

Opening Hours

Monday 09:00 - 20:00
Tuesday 09:00 - 20:00
Wednesday 09:00 - 20:00
Thursday 09:00 - 20:00
Friday 09:00 - 20:00
Saturday 09:00 - 17:00
Sunday 09:00 - 15:00

Telephone

+6281320097080

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Auto 2000 posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Auto 2000:

Share

Category