04/07/2026
"DUA WARGA SIPIL. DUA NYAWA. SAMA-SAMA BERHARGA."
KETIKA NEGARA MEMELIHARA KONFLIK, SIPIL YANG MATI
"Keduanya warga sipil yang korban. Ini akibat negara memelihara konflik di Papua."
Poster ini membenturkan 5 banding 1 wajah korban:
1. 5 Warga sipil Intan Jaya sebulan Juni-Juli : Dibunuh, jasadnya disembunyikan. Paling ironinya Hamba Tuhan (Evangelis) dan Ibu hamil 7 bulan, bersama bayinya meninggal sama-sama satu negara ini Sunyi.
2. Pilot Capt. Nicholas F. Goselin: Disoroti dunia, bahkan didoakan seluruh bumi.
Pertanyaan posternya tepat: "Apakah nilai kemanusiaan berbeda tergantung siapa korbannya?"
Akar masalahnya lebih jauh dari hari ini.
1. Trikora 19 Desember 1961: Sejarah yang dipaksakan dengan semangat histeris.
2. Perjanjian New York 15 Agustus 1962 : Dibuat untuk kepentingan geopolitik Perang Dingin Amerika Serikat. Hak politik bangsa Papua dirampas di meja perundingan.
3. Aneksasi 1 Mei 1963 - Pepera 1969 : Proses penuh rekayasa, 1 orang mewakili 1000. Sejak itu konflik struktural lahir.
Hasilnya: Ribuan warga sipil Papua kehilangan nyawa. Konflik dipelihara karena Papua dianggap "harta karun": emas, tembaga, hutan, gas.
Negara harus bertanggung jawab.
Selama akar konflik tidak diselesaikan, yang jatuh terus adalah sipil. Negara terkesan mengejar sumber daya, tapi mengabaikan luka sejarah dan korban manusia.
Prinsipnya satu:
- "Setiap kematian warga sipil adalah tragedi.
- Setiap dugaan pelanggaran layak diusut jujur dan transparan.
- Nurani tidak seharusnya memilih siapa yang pantas dikasihi."
Kemanusiaan harus berdiri di atas semua kepentingan. Ekonomi, politik, militer tanpa kecuali.
"Dua nyawa. Dua warga sipil. Satu ditangisi dunia, satu dibungkam negara.
Apakah nyawa punya harga berbeda?"
"Selama akar konflik dipelihara, yang jatuh adalah rakyat sipil. Papua bukan soal tambang. Masalah Papua adalah soal dan kehidupannya.
Ini adalah kejahatan kemanusiaan secara struktural dimana tidak tanggung jawab menyelesaikan akar konfilik.
Sejuta rawah, 4 Juli 2026