15/08/2026
Pajak Roh
Di tahun ketika angin tidak lagi membawa bau karat, Ratu Apaanane tahu kerajaannya sedang sakit.
Bukan sakit demam atau paceklik. Sakit yang lebih pelan, seperti suami yang mulai lupa cara memeluk istrinya. Di Pasar Apaanane Baru, tumpukan panci terlihat terlalu mengkilap. Karung-karung goni tidak lagi berbisik. BH-BH bekas yang biasanya bergumam rindu, kini diam seperti manekin.
"Aku menyentuhnya, Ratu. Dingin," kata Mbok Sari, pemulung paling tua. Tangannya yang penuh tato jelaga mengelus sebuah dandang baru. "Biasanya, kalau ini asli, rohnya menggigit jariku sedikit. Biar aku ingat."
Ratu jongkok. Ia tidak memakai mahkota hari itu, hanya kebaya sobek warna tanah. Ia tempelkan keningnya ke dandang itu.
Kosong.
Malamnya di Balai Kesuburan, Ratu mengumpulkan para Patih. Di atas meja bukan peta perang, melainkan tumpukan barang palsu.
"Siapa yang mengizinkan ini masuk?" tanyanya pelan.
Patih Karung Goni berdeham. "Pedagang dari seberang, Ratu. Dari Kartel Kertakarya. Mereka bilang ini rongsokan versi baru. Anti kutu. Tahan air. Ada cap-nya. SNI Dewa."
Ratu tertawa. Tawa yang membuat semua laki-laki di ruangan itu menunduk.
"SNI Dewa? Sejak kapan dewa-dewa kita butuh stiker?"
Ia tahu. Ini bukan soal dagang. Ini soal jiwa. Di Pemulung Apaanane, kami tidak memulung barang. Kami memulung roh yang tertinggal di dalamnya. Roh haus di botol. Roh lapar di karung. Kalau roh itu diganti dengan plastik mengkilap yang kosong, rakyat akan kenyang mata tapi lapar selamanya.
"Kita bakar saja, Ratu?" usul seorang Tumenggung muda.
"Tidak," jawab Ratu. "Kalau kau bakar yang palsu, rakyat akan bilang kau iri karena tidak bisa membuatnya. Kau harus buat mereka malu karena pernah mencintainya."
Maka Ratu melakukan hal yang tidak pernah dilakukan ratu mana pun dalam folklore.
Ia membuka lapak.
Di perbatasan kerajaan, di antara tumpukan kasur bekas dan tirai bambu, ia pasang papan kayu bertuliskan: PIJAT ROH - MBOK ANANE. BUKA MALAM.
Ia melepas kebayanya yang bagus, memakai jarik lusu. Wajahnya ditutup bedak jelaga. Tidak ada yang tahu itu Ratu.
Yang datang pertama adalah Patih Karung Goni sendiri, pelanggan setia barang laminating.
"Mbok, saya loyo. Istri saya bilang saya seperti memeluk bantal guling kempes," keluhnya sambil berbaring di atas karung asli.
Ratu, sebagai Mbok Anane, hanya diam. Ia ambil dua benda. Satu panci asli, penyok, hitam, masih ada sisa nasi aking di pantatnya. Satu lagi panci palsu, mulus, putih, berbunyi nyaring kalau diketuk.
"Pilih. Peluk mana yang kau mau bawa pulang untuk masak dan untuk tidur?" bisik Ratu.
Patih itu memeluk panci palsu. Dingin. Licin. Tidak ada perlawanan. Seperti memeluk janji kampanye.
Lalu ia memeluk panci asli. Karatnya menggores lengannya sedikit. Hangat. Dari dalamnya terdengar denging kecil, seperti tawa anak-anak yang rebutan kerak nasi.
Patih itu menangis.
"Kenapa yang asli melukai?" tanyanya.
"Karena yang hidup memang melukai sedikit," jawab Ratu. "Yang mati saja yang tidak pernah melukai."
Dari mulut ke mulut, kabar itu menyebar. Bukan kabar tentang ratu. Kabar tentang Mbok pijat yang bisa menguji apakah suamimu masih punya roh.
Para pejabat, para saudagar, semua datang diam-diam. Mereka berbaring, memeluk barang-barang mereka. Dan satu per satu, mereka sadar mereka telah tidur dengan mayat yang didandani.
Dalangnya ternyata bukan orang asing. Orang asing hanya menjual. Yang membuka pintu gudang adalah Nyi Kresek, selir termuda Ratu. Perempuan cantik yang benci bau karat. Ia ingin kerajaan terlihat seperti kerajaan di katalog.
"Mereka menjanjikanku jadi Ratu yang bersih, Kak," kata Nyi Kresek ketika Ratu menemukannya di gudang penuh stiker SNI Dewa palsu. "Ratu yang tidak bau sampah."
Ratu tidak menamparnya. Ia hanya duduk di sebelah tumpukan stiker itu. Mengelus rambut Nyi Kresek.
"Kresek, kamu pikir aku betah bau seperti ini?" bisiknya. "Aku juga ingin wangi. Aku juga ingin mulus. Tapi kalau aku wangi, siapa yang mau memeluk rakyatku yang bau? Kalau singgasanaku bersih, di mana mereka akan duduk?"
Keesokan harinya, Ratu tidak mengumumkan perang. Ia mengumumkan festival.
Pengumuman itu dibacakan di semua sudut kerajaan:
"Mulai besok, selama tujuh hari tujuh malam, dilarang memakai barang laminating. Semua warga harus bugil dari kepalsuan. Pakai karung asli yang kutuan. Masak dengan panci yang penyok. Tidur memeluk BH bekas yang kendor karetnya. Siapa yang melanggar, pajaknya naik."
Rakyat marah. Menggerutu. Hari pertama mereka gatal-gatal. Hari kedua mereka malu karena terlihat miskin lagi.
Hari ketiga, sesuatu terjadi.
Karung-karung itu mulai berbisik lagi. Panci-panci itu mulai bernyanyi. Seorang anak kecil tertawa karena dari dalam botol bekas yang dipeluknya, keluar roh haus yang meniupkan gelembung-gelembung cahaya ke wajahnya.
Para pedagang asing dari Kartel Kertakarya berdiri di pasar yang kosong. Barang mereka yang mengkilap tidak ada yang menyentuh. Mereka berteriak, "Diskon! Buy one get one! Free SNI!"
Tidak ada yang menoleh. Di kejauhan, terdengar suara rakyat Pemulung yang kembali bergairah, memukul-mukul panci penyok mereka seperti gamelan.
Di atas singgasananya yang terbuat dari tumpukan karung goni asli, Ratu Apaanane duduk. Kakinya penuh lecet karena festival. Di pangkuannya, Nyi Kresek menangis sambil memeluk karung aslinya untuk pertama kali.
"Kak, ini gatal."
"Iya," kata Ratu sambil tersenyum, memandang kerajaannya yang bau, berisik, dan hidup kembali. "Yang gatal itu tandanya masih digigit kehidupan."
Tamat
Jakarta, 14 Agustus 2026